Bab 161

4535 Words

Nala mengangguk cepat, napasnya masih tersengal. Suaranya bergetar, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap bicara. “Iya, Bia … Om Hans. Kania dinikahi paksa sama Om Bian. Dia … dia bahkan nggak punya hak buat nolak.” Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca. “Om Bian benar-benar ngerampas kebebasan Kania.” Ucapan itu menggantung di udara. Yasmin dan Hans terdiam. Wajah keduanya jelas menunjukkan keterkejutan yang dalam—tidak percaya, sekaligus marah. Belum sempat mereka merespons, langkah kaki terdengar dari arah pintu. Biantara muncul. Pria itu berdiri di ambang ruangan dengan wajah tegang. Napasnya belum sepenuhnya teratur, seolah ia sendiri masih berusaha menstabilkan diri setelah apa yang baru saja ia dengar. Namun kehadirannya justru menyulut sesuatu dalam diri Yasmin. Napas wa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD