Ucapan itu membuat Dokter Wina seketika berubah sigap. Ia mengangkat bayi-bayi itu dari da.da Kania dan menyerahkannya kepada perawat yang sudah menunggu di sisi meja operasi. “Bawa ke NICU. Sekarang!” perintahnya tegas. Tangisan bayi masih terdengar ketika mereka dibawa menjauh. Namun perhatian seluruh tim medis kini terfokus pada satu hal—Kania. Monitor di samping tempat tidur mulai berbunyi lebih cepat. Beep… beep… beep… “Dok, tekanan darah turun. Delapan puluh per lima puluh,” lapor salah satu perawat dengan suara tegang. “Perdarahan meningkat. Uterus tidak berkontraksi,” sambung perawat lain. Dokter Wina langsung bergerak cepat. “Uterine atony. Siapkan oksitosin. Tambahkan methergine. Cepat!” “Infus sudah dipercepat, Dok. Transfusi darah belum masuk.” “Suction! Saya nggak bis

