Tapi … dalam diam itulah, Biantara justru terperangkap oleh pikirannya sendiri. Ia menatap Melati. Wajah istrinya itu terlihat begitu dekat. Terlalu dekat. Tapi entah kenapa, yang muncul di benaknya justru Kania. Ia teringat bagaimana gadis itu pernah merawatnya saat sakit. Duduk di sisi ranjang dengan wajah cemasnya yang ditutup rapi. Memaksanya makan walau ia tidak berselera. Mengingatkannya minum obat. Menyiapkan semuanya tanpa diminta dan tanpa mengeluh. Dan sialnya, ingatan itu malah begitu lekat. Semua yang telah dilakukan oleh Kania untuknya justru makin terlihat jelas. Dadanya makin terasa tidak nyaman. Ia resah. Seolah ada sesuatu yang salah di dalam dirinya. Biantara mengangkat tangan, meraih dagu Melati perlahan, membuat istrinya menoleh dan menatapnya. “Melati ….” Nada s

