Bab 77-4

830 Words

“Tuan.” Suara Hendrik membuat Biantara berdiri. Pandangannya jatuh pada anak buah kepercayaannya itu—raut wajahnya tegang, pakaiannya tampak sedikit berantakan, seolah baru menyelesaikan sesuatu yang tak ringan. “Bagaimana?” “Semuanya sudah siap.” “Termasuk… dia?” Hendrik mengangguk mantap. “Iya, Tuan.” Biantara menepuk pundak Hendrik singkat, lalu menarik senyum puas yang tak sampai ke matanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah lebar menuju ruang bawah tanah yang temaram, minim cahaya, seakan menelan setiap langkahnya. Di sisi lain, Kania yang telah menghabiskan makan malamnya memilih keluar sebentar. Ia hanya ingin mencari udara segar, menjauh sejenak dari rumah yang terasa semakin menyesakkan. Udara malam tidak terlalu dingin. Kania menyelipkan kedua tangannya ke dalam sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD