“Why?” “Sebelum Om lakuin itu,” suara Kania bergetar, “Kania mau kasih satu hal ke Om.” Satu alis Biantara terangkat. Ia tak berkata apa-apa. Tangannya justru mencengkeram leher Kania dengan kuat, memaksa gadis itu mendongak dan menahan tatapannya. “Bicara.” Kania bimbang. Detik-detik terasa memanjang. Inikah saatnya membuka rahasia yang selama ini ia kunci rapat-rapat? Ia menimbang, mengumpulkan sisa keberanian. “Aku mau Om tahu. Ka-kalau aku ham—” Bruk! Kalimat itu terputus. Tubuh Kania ambruk lebih dulu, kepalanya membentur sisi tangga. Dunia seketika gelap. “Sial!” Biantara menggeram. Ia melemparkan senjata itu menjauh, lalu berdiri dan menatap tubuh Kania yang terkulai tak sadarkan diri. “Bereskan semuanya,” perintahnya dingin. “Satu jam ke depan, ruangan ini harus sudah ber

