Tapi, belum sampai telepon itu terhubung, Naren sudah lebih dulu datang. Ia melambaikan tangan dan menghampiri keduanya. “Panjang umur lo, Ren.” “Kenapa? Kalian lagi ngomongin aku?” “Nggak, ih. Pede banget.” Kania menyahut. Ia menggeser duduknya saat Naren memangkas jarak darinya. “Jangan geser terus, Ren. Udah mentok banget ini.” Naren tertawa kecil. Gadis di sampingnya terlihat begitu manis saat wajahnya sehangat ini. Hal demikian yang lelaki itu rindukan selama dua minggu belakang. “Aku kangen sama kamu, Kania.” “Cie ... kangen ....” “Itu hal yang wajar, Nala. Biasanya Kania bareng kita, kan?” Naren berusaha bersikap biasa dengan perkataannya tadi. Tepat saat Nala hendak menyahut, Melati datang dari arah belakang. Ia cepat-cepat berdiri dan menghampiri wanita tersebut. “Ka

