“Tuli?!” Biantara paling benci mengulang. Namun, sikap Kania selalu saja memaksa dirinya untuk melakukan. Gadis itu memancing amarah, meski dengan cara diam sekalipun. “I-iya. Bentar lagi.” Pria tersebut berbalik. Ia menjauhi Kania. Begitu sampai ke ambang pintu, ia berhenti dan melirik ke arah keponakannya. “Serapat apa pun rahasia yang kamu sembunyikan, saya tau.” Deg! Perkataan itu membuat Kania mendongak. Ia melihat Biantara yang sudah pergi. Kalimat itu ... membuatnya sibuk menduga. Ah, tidak. Tidak mungkin Biantara tahu jika dirinya hamil. Ia tidak pernah bercerita pada siapa pun. Bahkan, malam itu bukankah ia tidak sempat bicara karena sudah terlanjur pingsan sebelum pengakuan tersebut keluar? Kania makin tidak karuan. Ia keluarkan ponsel dari belakang tubuhnya dan mengat

