Bab 79-3

721 Words

Tubuhnya lalu ia rebahkan kembali. Namun, ketenangan tak kunjung datang. Dari balik dinding, suara-suara itu masih terdengar jelas—nafas terengah, desah tertahan, dan bunyi ranjang yang bergerak ritmis. Pertempuran panas Melati dan Biantara belum juga usai, seolah tak memberi ruang bagi siapa pun di rumah itu untuk bernapas dengan tenang. Kania memejamkan mata, berusaha mengabaikan semuanya. Tangannya menutup kedua telinga, meski ia tahu usahanya sia-sia. Suara dari kamar sebelah tetap menembus, memantul di kepalanya, membuat perasaannya kian sesak tanpa alasan yang benar-benar ia pahami. Sebagai pilihan terakhir, ia meraih earphone dari atas ranjang. Benda itu disumpalkannya ke telinga, lalu ia memutar lagu dengan volume penuh. Dentuman musik memenuhi kepalanya, menenggelamkan suara-sua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD