Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya, perlahan namun pasti, menyeretnya ke dalam lubang penyesalan yang dalam. Bukan hanya tentang apa yang ia lihat, tetapi tentang keputusannya untuk tetap berada di sana. Tentang dirinya yang seharusnya pergi lebih cepat, atau mungkin tak datang sama sekali. Di kamar vila .... Setelah berjam-jam terjebak dalam euforia yang menguras tenaga, Biantara dan Melati akhirnya beranjak ke kamar mandi. Ruang itu menjadi tempat terakhir yang mereka singgahi, seolah menjadi penutup dari luapan h.a.s.r.a.t yang sejak tadi tak diberi jeda. Biantara memutar keran, membiarkan air hangat mengalir perlahan memenuhi bathtub. Uap tipis mulai naik, menghangatkan udara di sekitarnya. Pandangannya lalu beralih pada Melati yang duduk di atas meja wastafel, tubuhnya tampak le

