Bab 79-5

1001 Words

Namun keyakinan itu runtuh seketika. Biantara terenyak. Langkahnya berhenti mendadak. Rahangnya mengeras, otot di lehernya menegang. Sorot matanya menggelap, menyatu dengan kelam di sekelilingnya—tajam, penuh amarah yang tertahan. “Brengsk,” desis Biantara rendah dan dingin. “Di sini kamu!” Di hadapannya, seorang gadis duduk mematung. Rambutnya tergerai berantakan, menutupi sebagian wajah yang terus diterpa angin malam. Tubuh itu diam, nyaris tak bergerak, seolah sudah terlalu lelah untuk memberi reaksi apa pun. Kania. Ya, gadis itu memang Kania. Ia tidak menoleh. Tidak mengangkat kepala. Rambut yang menutupi wajahnya tampak basah, bukan hanya oleh embun laut, tetapi juga oleh air mata yang belum sepenuhnya berhenti mengalir. Sesekali, tetesan itu jatuh ke pasir di bawahnya. Entah s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD