Bosan dengan posisi demikian, Biantara melepas penyatuannya. Ia menuntun Kania untuk mengambil posisi seperti orang merangkak. Pria tersebut turun dari ranjang. Ia memasukkannya dari belakang dalam sekali entakan. “Akhhh, Bian ....” Telinga Biantara menuli. Ia tetap memacu miliknya. Pria tersebut terus m.e.n.g.gauli sang keponakan dengan brutal. “Arghhh ....” “Faster, Bian!” Racauan itu makin membuat Biantara gila. Biantara mempercepat gerakannya. Tubuh Kania bahkan terentak berulang kali. “Akhhh ... engghhh ....” Desahan itu kembali terdengar. Biantara tidak bisa menahan diri. Tubuh Kania terlalu menggairahkan. Ia mengumpulkan helai rambut gadis itu dalam satu genggaman. Biantara menariknya. Gerakan pinggulnya makin cepat. Ia tidak memedulikan Kania yang terus-menerus menge

