Sekali lagi, apakah mungkin ... Naren sudah tahu semuanya? Kania menggeleng. Tidak mungkin jika Naren sudah tahu. Nala juga tidak mungkin membeberkannya, kan? Di tengah pikirannya yang larut, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Kania terenyak dari lamunannya sendiri. Ia terkejut. “Kamu udah bangun, Kania?” Melati berjalan mendekati keponakannya. Ia menatap suasana kamar Kania yang jauh lebih rapi daripada tadi ketika wanita tersebut memeriksanya. “Udah, Kak.” Kania membalas singkat. Tangannya menutupi bagian leher yang terdapat noda merah di sana. Ia menghindari tatapan wanita di sampingnya. “Itu bibir kamu ....” Melati menatap curiga. Ia perhatikan baik-baik sisi wajah Kania yang terlihat aneh. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. Bengkak di bibirnya juga kentara jelas. “Ah, in

