Saking syoknya, Nala sampai terlonjak. Sulit dipercaya jika Kania melakukan hal sejauh itu dengan Biantara dalam keadaan sadar. “Posisinya serba salah, Nal.” Kania membalas dengan nada penuh penyesalan. Ia menunduk. Air matanya menetes lagi. Gadis tersebut terlihat rapuh. Sisi lemahnya ia perlihatkan pada Nala. Kania masih belum bisa mencerna secara baik apa yang akan terjadi tadi malam. Ia ... kehilangan akal. Menyadari Kania yang terlihat sedih, Nala akhirnya kembali duduk. Ia merangkulnya, lalu membawa kepala gadis tersebut ke dalam pelukan. Kania menangis di pundak sahabatnya. Ia tergugu. Hatinya makin tersayat. Luka-luka di tubuhnya seperti melebar, merebak ke mana-mana. “Kenapa, Kania? Kenapa lo lakuin ini?” “Aku nggak ada pilihan, Nal,” terang Kania di sela isak tangisny

