“Duduk.” Gadis itu seolah menulikan telinga. Ia tidak bergerak sama sekali. Diam. Kania bertahan dalam kebisuan. “Duduk!” Perintah yang sama terdengar lagi. Kali ini disertai hardikan keras yang menggelegar. Melihat Biantara yang memang paling benci dibantah, Kania terpaksa menurut. Ia memilih duduk di sofa seberang, menjaga jarak dengan pria itu. Gerakan Kania diawasi dengan mata tajam. Biantara lantas turut duduk, tepat di hadapan Kania. Keduanya hanya dibatasi oleh sebuah meja kayu dengan ukiran yang dibuat khusus. “Mau alasan apa lagi? Hm?” Biantara memulai percakapan. Ah, bukan percakapan. Lebih tepatnya, mengintimidasi. Kania membalas seadanya. “Ada kerja kelompok di rumah temen.” “Dan kamu lupa tanggung jawab kamu?” Biantara menegur dengan nada geram. Kedua matanya ti

