“Kania.” Panggilan Melati menyadarkannya dari lamunan saat gadis itu terlalu lama tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kania menatap istri pamannya itu dalam-dalam, lalu tersenyum tipis. Melati berbeda dengan Biantara. Wanita itu selalu bersikap lembut, memperlakukannya layaknya adik kandung sendiri. Kania paham, kecurigaan Melati lahir dari rasa peduli—dari kasih sayang yang tulus. Melati hanya ingin berjaga-jaga. Ia takut Kania terjerumus ke pergaulan yang salah. Terlebih, dialah yang pernah berjanji pada Yasmin bahwa ia sanggup menjaga Kania dengan baik selama wanita itu berada di luar negeri. “Selama Mba Yasmin di luar negeri, aku yang bertanggung jawab atas kamu, Kania,” ucap Melati tegas namun tetap lembut. “Aku wali kamu. Jadi, tolong nurut, ya. Ini semua demi kebaikan kamu.” “

