Insiden malam itu membuat Kania dihantui rasa bersalah yang tak kunjung usai. Andai saja Biantara mau sedikit berbaik hati dan bersikap lebih manusiawi padanya, mungkin Kania tak akan sekeras ini menutup diri. Mungkin ia tak perlu bersikap defensif, tak perlu tampak m.u.r.a.h.an di mata pria itu. Dan mungkin … kejadian yang seharusnya tak pernah terulang, tak akan kembali terjadi pada malam kemaren. Melati akhirnya melepaskan pelukan itu. Tangannya sempat mengelus rambut Kania singkat, penuh kasih. “Kamu bisa cerita ke Kakak kapan aja, Kania. Jangan dipendam sendiri,” ucapnya lembut—itu kalimat terakhir sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu. Begitu pintu kamar tertutup, Kania bergegas ke kamar mandi. Tangisnya luruh tanpa bisa ditahan. Ia menyalakan shower dan membiarkan air

