Bab 94-3

721 Words

Gadis itu tahu, posisinya tidak akan pernah aman jika sudah menyangkut Biantara. Kania tidak akan bisa tenang setelah ini. Ia melirik pamannya sebentar. Pria itu diam seribu bahasa dengan raut wajah dingin. Matanya merah berkilat, api kemarahan yang kentara jelas di sana. Di tengah keheningan itu, napas Kania mendadak berat. Ia merasa seluruh tubuhnya seperti dibakar dari dalam. Rasa tak nyaman dan menyakitkan itu lebih hebat dari apa yang dirasakan di kamar Davin tadi. Gadis tersebut duduk dalam posisi gelisah. Muncul suatu keinginan di kepala Kania. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi cukup untuk dirasakan melalui reaksi tubuhnya yang tidak bisa dikontrol. Detak jantungnya lebih cepat. Kepalanya yang berat mendadak ringan seperti kapas. Namun, bukan berarti ia t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD