Setelah memarkir mobil, Nala memapah Kania masuk. Begitu mereka melangkah ke ruang praktik Dokter Wina, aroma khas obat-obatan langsung menyergap. Beruntung, klinik itu sedang sepi—tak ada pasien lain—sehingga mereka tak perlu mengantre. Kedatangan Kania dan Nala disambut dengan senyuman hangat oleh Dokter Wina. Ia mempersilakan kedua gadis berseragam olahraga itu untuk duduk. “Lama nggak ketemu, ya, Nala, Kania. Ada keluhan apa?” tanya Dokter Wina ramah. “Ini, Mbak,” jawab Nala mewakili, “kata Kania perutnya sakit.” Dokter Wina mengangguk, lalu meminta Kania berbaring di tempat tidur. “Kita USG dulu, ya, Kania. Coba rileks. Semoga nggak ada apa-apa,” ucapnya menenangkan. Tangannya menyentuh ujung baju Kania. “Permisi, saya angkat sedikit bajunya, ya.” Kania mengangguk tanpa banyak b

