Kania menunduk. Pandangannya jatuh ke lengannya sendiri—pada bekas-bekas sayatan yang masih samar terlihat. Rasa sesal menjalar pelan, perih, menekan hingga ke d.a.d.a. Ia sadar betul kebodohan yang pernah ia lakukan. Ia bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tapi juga janin-janin yang sama sekali tak tahu apa-apa. “Terima kasih, ya, Mbak,” ucap Nala akhirnya, menggantikan Kania yang masih terpaku. Dokter Wina mengangguk sambil menuliskan resep di kertas yang baru diambilnya. “Ini obatnya saya resepkan. Tolong diminum rutin, ya. Jangan lupa vitaminnya dan penambah darah. Yang paling penting, Kania harus makan teratur dan sehat.” Kania masih terdiam. Tangannya perlahan bergerak ke perutnya, seolah meminta maaf—pada dirinya sendiri, dan pada tiga nyawa kecil yang kini bergantung sepe

