Entah dorongan apa yang menggerakkan Kania, melihat Biantara yang seperti itu tangannya refleks meletakkan gelas yang masih digenggam ke atas nakas. Ia lalu mengangkat nampan dan menaruhnya di pangkuan Biantara, memastikan mangkuk tidak langsung menyentuh tubuh pria itu agar panasnya tak menambah rasa sakit. Jemari lentiknya mengambil sendok, lalu menyodorkannya ke tangan Biantara. Kania memperhatikan pria itu sejenak—bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana napasnya tertahan beberapa detik, menahan nyeri yang jelas belum sepenuhnya reda. “Udah, kan, Om?” tanyanya pelan, memastikan. Biantara hanya mengangguk, lantas membiarkan keponakannya pergi. Ia menatap punggung Kania yang terlihat turun dan lemah. Namun, apa pedulinya? Biantara memilih menyuap bubur yang masih panas itu perlahan

