Bab 96-3

717 Words

Ia turun dengan langkah sedikit terburu-buru. Benar kata Nala—korset yang awalnya terasa mengganggu, lama-lama justru terasa nyaman karena memang dibutuhkan. Benda itu menyangga perutnya dengan baik, membuat ia bisa beraktivitas tanpa terlalu terhambat meski mengandung kembar tiga. “Kamu mau ke mana, Kania?” suara itu menghentikan langkahnya. “Masih pagi banget ini.” “Aku mau keluar bareng Naren, Kak.” Begitu nama itu terucap, Biantara langsung meletakkan sendoknya. Bunyi kecil logam bertemu piring terdengar jelas. Pria itu mengalihkan pandangan, menatap Kania yang berdiri tak jauh darinya. “Kamu tidak boleh pergi.” Kening Kania berkerut. “Alasannya?” Melati menoleh ke arah Biantara. Wajah pria itu dingin, tertutup, seolah tak berniat memberi penjelasan apa pun pada keponakannya. “B

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD