Bisikan itu membuat Biantara meremang. Seluruh tubuhnya seperti dialiri aliran listrik. Ia makin gila. Sesuatu yang sempat lenyap kini kembali naik ke permukaan. Pria tersebut menggeram. Kedua tangannya mengepal kuat. Lekuk tubuh gadis di depannya terlalu sempurna. Terlalu memikat. Biantara hendak berpaling. Ia ingin menatap ke arah lain. Namun, apa yang ada di depannya seperti sulit diabaikan. Geram, pria tersebut akhirnya menyesap leher jenjang Kania. Gadis itu melenguh. Suara indahnya mendayu seperti alunan musik lembut yang syahdu. Begitu Biantara menarik kepalanya dari sana, Kania kembali memiringkan kepalanya. Ia menggigit kecil daun telinga pria itu dan membisikkan sesuatu. “Lima miliar untuk setiap pelayananku, Om.” Damn! Gadis gila. Biantara baru pertama kali mendapa

