Bab 98-2

713 Words

“Sengaja kamu bicara begitu di depan Melati?” suara Biantara memecah keheningan. Gerakan Kania terhenti. Ia menoleh, lalu menyunggingkan senyum kecil. “Kalau iya, kenapa, Om?” Biantara tetap menatap jalan. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai pendek. “Kamu salah bermain dengan saya, Kania.” Kania terkekeh pelan. Ia mematikan layar tablet, memasukkannya kembali ke ransel lalu mengubah posisi duduk—kini menghadap Biantara. “Harusnya aku yang bilang begitu, Om,” ucapnya tenang. “Om salah menilaiku.” Jawaban itu terasa menyengat. Biantara selalu membenci cara Kania membangkang—tenang, tapi menusuk. “Sekali saja kamu bicara macam-macam ke Melati,” katanya dingin, tiap kata ditekan, “saya nggak segan buat motong lidah kamu.” Kania mengangguk-angguk kecil. Ia mengendikkan bahu, gest

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD