“Om mau yang beda, kan?” Pria tersebut tidak menjawab. Ia biarkan Kania memainkan dasinya menggunakan jari lentik itu. “Aku bakal kasih apa yang nggak pernah dikasih sama Kak Melati ke Om.” Biantara benci mulut gadis itu. Ia benci semuanya. Ia benci dengan apa saja yang Kania lakukan, termasuk membandingkan dirinya dengan Melati. “Lakukan.” Perintah itu terdengar datar, tapi suaranya berat. Maka tanpa ragu, Kania melepas dasi pamannya. Ia gunakan barang itu untuk menutup mata Biantara dan mengikatnya ke belakang kepala. “Aturan permainan kali ini ... Om nggak boleh lepas penutup ini, sebelum semuanya selesai.” “Ya.” Kania tersenyum. Dengan begini, pria tersebut tidak akan melihatnya memakai korset. Biantara tidak harus tahu tentang kehamilannya. Ya, walau untuk orang awam, mun

