Di sisi lain, Kania baru saja masuk melalui pintu yang langsung terhubung ke laboratorium. Ia berhenti sejenak, berbalik, menatap ruangan luas itu—sunyi, dipenuhi meja kerja dan rak peralatan yang tersusun rapi. Namun baru lima langkah berjalan, telinganya menangkap potongan percakapan. Kania refleks berhenti. Ia mengendap ke samping, bersembunyi di balik rak peralatan laboratorium, lalu mengintip dari celah sempit di antaranya. “Bagaimana kalau Kania nggak sebaik yang kamu pikir, Naren?” Naren mengernyit, jelas terkejut dengan pertanyaan itu. “Tiba-tiba banget Om nanya kayak gitu. Kenapa?” Adrian menegakkan punggungnya. Tatapannya tertuju pada Naren begitu dalam, seolah sedang mencari celah untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak bisa diterima. “Om cuma mau tahu,” ucapnya akhirn

