“Kenapa?” Nala memperhatikan penampilan Kania dari atas kepala sampai ujung kaki. Atensinya jatuh pada kain kasa yang menutup bagian lutut. “Lo ... kenapa?” Kania menggeleng. “Jatuh dari motor.” “What?! Sejak kapan lo motoran? Terus kenapa lo nggak cerita ke gue? Atau ... ini kerjaan Si Om?” Pertanyaan beruntun itu membuat Kania menurunkan bahunya. Ia menghela napas panjang. Gadis tersebut berjalan pelan. “Nggak. Cuma keserempet dikit kemarin pas lagi keluar.” “Emang lo ke mana? Kenapa nggak minta ditemenin gue?” Gadis yang rambutnya digerai itu lagi-lagi tidak menjawab. Kania lebih memilih jalan lebih dulu untuk menuju ke kelas. Tapi, baru sampai di ambang pintu, Nala sudah menghalangi langkah Kania. Gadis itu menggeleng. Ia takut sahabatnya sakit hati. “Kenapa, sih, Nal

