Hatinya kembali diremuk. Seakan belum cukup semua yang ia terima hari ini, cobaan itu datang lagi tanpa ampun. Kania buru-buru membuang wajah, berpura-pura tidak melihat apa pun. Bohong jika ia baik-baik saja. Nyatanya, dadanya tetap terasa sakit. Sesuatu di dalam dirinya terus mendorongnya jatuh ke titik paling rendah. Kania menarik napas dalam-dalam. Masih dalam posisi tertunduk, ia berdiri. Langkahnya gontai dan pelan, meninggalkan tempat itu dengan sisa tenaga yang ada. Bugh! Suara itu terdengar jelas ketika Kania menubruk bahu seseorang. Tubuhnya sedikit terhuyung. Ia refleks memegangi bagian yang terasa nyeri sambil meringis. Detik berikutnya, Kania mengangkat pandangannya. Naren. Lelaki yang baru saja ditabraknya adalah kekasih—atau mungkin mantan kekasihnya. Entahlah. Hubunga

