Bab104-5

769 Words

Kania tidak merespons. Ancaman demi ancaman yang terus ia terima selama ini membuatnya mati rasa. Ia sudah terlalu terbiasa hidup berdampingan dengan tekanan dan tuntutan yang seolah tak pernah memberi ruang untuk bernapas. “Silakan, Om,” ucapnya lirih, nyaris tanpa emosi. “Silakan habisi aku dengan cara Om.” Biantara berbalik badan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar Kania dengan kasar. Suara bantingan itu menggema singkat, lalu lenyap, menyisakan keheningan yang berat. Kania masih terdiam di tempatnya. Pandangannya kosong. Ia mencoba mencerna semua yang terjadi sejak pagi tadi—semuanya terasa terlalu cepat, terlalu mendadak, dan terjadi di luar kendalinya. Siapa sangka, niat baiknya hampir selalu berujung menjadi masalah. Mungkin, benar kata pa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD