Apalagi Biantara yang entah bagaimana masuk dan melakukan berbagai cara agar bisa melakukan ‘itu’ dengannya. “Sebenarnya, apa yang saya katakan tadi itu rahasia, Kania. Tapi karena saya tahu bagaimana kondisi kamu, saya kasih bocoran lebih dulu.” “Makasih banyak, Om,” jawab Kania tulus. “Om udah baik banget sama Kania.” Gadis itu menoleh sekilas ke arah kepala sekolahnya. Adrian masih fokus mengemudi, sorot matanya lurus ke depan, seolah benar-benar ingin memastikan Kania bisa lulus dengan baik—meski dalam kondisi badan dua seperti sekarang. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah Adrian. Pria itu turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Kania. Ia melepas jasnya, membentangkannya di atas kepala gadis itu, menjadikannya payung seadanya agar Kania terlindung dari hujan yan

