Semuanya sudah terlambat. Jika mundur, Kania justru mempermalukan diri sendiri. Namun, jika maju dan melanjutkan .... Sial! Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Kania tidak bisa berpikir jernih. Tubuhnya sudah terlanjur dirasuki sesuatu yang menuntutnya untuk mengambil penyelesaian. Maka dari itu, Kania menahan mati-matian menekan rasa malunya lebih dalam. Ia maju, dengan langkah gemulai. Langkah kakinya dibuat semenggoda mungkin. Gadis rapuh itu pura-pura kuat. Menutupi luka yang sepenuhnya sudah membuat dirinya hancur. Begitu sampai di depan Biantara, satu kakinya yang jenjang itu terangkat dan menekan d.a.da pamannya. Pria yang duduk di sofa itu refleks bersandar. Tatapannya tertuju pada kaki itu, lalu naik perlahan, memakunya di wajah sang gadis. Kaki itu lantas ditarik. Dan

