Bab 107-3

711 Words

Biantara terkekeh pelan. Ia menyesap kopinya dengan santai, lalu menutup majalah yang sejak tadi dibacanya. “Nggak, Pa. Saya cuma ngasih dia sedikit pelajaran supaya dia tahu aturan.” Jawaban itu meluncur begitu ringan, tanpa menyisakan beban apa pun. Wajahnya tenang dan nyaris tanpa rasa bersalah. Bukankah memang selalu seperti ini setiap kali ia menuntaskan semua hasratnya pada Kania? Ia selalu mencapai kepuasan. Selalu jatuh pada titik yang sama—pada kata candu—setiap kali melakukannya, meski sudah berulang kali. “Anak itu benar-benar nggak tahu diri!” Ranti mendongak sekilas, lalu mendengkus sebal. Ia melangkah ke lantai atas sambil menahan amarah yang kian memuncak. Begitu tiba di depan pintu kamar Kania, wanita itu langsung mendorongnya. Namun, pintu tersebut terkunci. Ranti ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD