“Dia ke mana, Bian?” Ranti berseru, menahan kesal. Pria itu terdiam beberapa saat. Di pikirannya terbesit satu hal—Kania pergi. Dan, entah kenapa rasa gelisah itu hadir. “Lihat meja belajar gadis itu, Bian!” Ranti menunjuk ke tempat itu. Biantara terpaku. Rak yang biasanya penuh buku kini hanya tersisa beberapa. Di atas sana sebuah benda yang menarik perhatian Biantara. Ia mendekat. Ponsel Kania tergeletak di sana. Pria tersebut meraih dan menatapnya dalam beberapa detik. Jika Kania pergi tanpa membawa ponsel, itu artinya .... “Dia kabur, Bian.” Ucapan Ranti membuat Biantara menoleh. Tangannya meremas benda tersebut, lalu melempar ke atas tempat tidur. Biantara tidak menjawab apa pun. Ia lebih memilih keluar dan masuk ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursi kerja dan membuka laya

