Ah, lagi-lagi tentang Kania. Biantara tanpa sadar sudah membandingkan istrinya dengan keponakannya sendiri. Ia tidak bisa mengendalikan pikiran yang muncul. “Iya. Sebentar.” Biantara menjawab lagi. Kali ini ia lebih memilih meneguk air putihnya lebih dulu. Jawaban Biantara mendadak menghilangkan minatnya makan malam kali ini. Wajah Melati tertekuk lesu. Niat baiknya ternyata tidak langsung berbalas sesuai harapan. Menyadari Melati yang mendadak diam, Biantara langsung menuangkan sedikit supnya ke nasi sebagai bentuk menghargai. “Kamu juga makan, Melati.” Kedua sudut bibir Melati tertarik membentuk senyum tipis. Wajahnya menghangat ketika melihat Biantara mulai bersiap makan. Ia mulai memakan masakannya sendiri. Namun, baru suapan pertama saja Melati merasa aneh. Nasinya sedikit k

