“Kania nggak ada.” Nada ketus itu membuat Nala terkekeh. Ia menggeleng, tidak percaya dengan jawaban Biantara sedikit pun. Gadis tersebut menyangka Biantara telah membohonginya. “Nggak usah pura-pura, Om. Om pasti udah nyembunyiin Kania, kan?” Biantara menatap dingin Nala. “Harusnya saya yang tanya sama kamu. Di mana kamu sembunyikan dia?!” Suara Biantara naik satu oktaf. Rupanya suasana berkecamuk di hatinya membuat emosi itu muncul tanpa bisa dicegah. Mata Nala melebar. Ia tidak suka dituduh. Niat yang awalnya baik mendadak berubah karena sikap Biantara. “Kalo aku yang nyembunyiin Kania, aku nggak bakal nyari dia di sini, Om.” Nala membela diri. Gadis itu benar-benar tidak tahu tentang keberadaan Kania. Setelah mendengar jawaban Biantara, Nala akhirnya menyadari sesuatu. Kani

