Sekarang. Ia harus mencari gadis itu—yang sudah kelas lebih dulu. “Kamu masuk ke mobil dulu, Love,” ucap Naren akhirnya, nadanya terdengar terburu-buru. “Aku mau ke belakang sebentar.” “Oke, Kak.” Lovely segera melangkah keluar kelas. Beberapa detik kemudian, Naren menyusul—namun alih-alih mengikuti arah Lovely, ia berbelok ke koridor lain. Langkahnya dipercepat, matanya menyapu sekitar, mencari satu wajah yang sejak tadi mengusik pikirannya. Tepat di depan pintu perpustakaan, langkahnya terhenti. Nala berdiri di sana. “Nal,” panggil Naren, suaranya sedikit tertahan. “Gue mau bicara empat mata sama lo.” Nala mengernyitkan dahi. “Kenapa?” ucapnya ketus. “Mau nanya berapa jasa gue?” Sindiran itu tidak digubris Naren. Ia langsung menarik lengan Nala, membawanya menjauh dari keramaian.

