“Mr. Adrian—” “Panggil Om saja kalau di luar sekolah, Nala,” potong Adrian cepat. Sekali lagi, Nala mengangguk. Suaranya melemah saat berkata, “Aku takut Kania kenapa-kenapa, Om.” Adrian menoleh. Ia menangkap jelas kekhawatiran besar di wajah gadis di sampingnya. Pria itu hanya berdeham singkat, seolah menahan banyak hal yang tidak bisa terucap. “Kita berdoa saja,” ujarnya akhirnya. “Semoga semuanya membaik.” Pria itu tetap berusaha terlihat tenang, meski jauh di dasar hatinya tersimpan ketakutan besar. Kondisi Kania drop sejak tadi pagi. Untuk itulah ia terpaksa pulang lebih awal dari sekolah. Namun, di hadapan Nala, ia tidak mungkin membeberkan semuanya. Ia tahu, gadis itu kurang bisa mengendalikan dirinya dari rasa paniknya. “Tadi pagi Kania baik-baik aja, kan, Om?” suara Nala be

