Bab 44-4

506 Words

Tatapannya mengarah pada langit-langit kamar yang terang. Entah kenapa, bayangan tentang Kania muncul di sana. Wangi khas keponakannya, caranya berbicara, dan rasa bibir yang manis, sungguh tidak bisa hilang dari ingatan. “Ck! Jangan pikirkan dia, Bian. Dia hanya anak tidak berguna.” Kalimat itu diucap tanpa sadar. Biantara berbalik, menarik selimut untuk menutupi tubuh, lalu berusaha memejamkan mata. ** Pagi hari .... “Tumben banget ngajak sarapan di kantin?” Nala yang merasa heran dengan sahabatnya akhirnya mengajukan pertanyaan. Jam masih menunjukkan pukul 06.30 dan mereka sudah sampai di sekolah lima belas menit lalu. Kania yang duduk di seberang meja hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh. Ia mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa minat. “Kebiasaan banget. Masalah Si Om la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD