“Iya, Kania. Aku keponakannya Om Adrian.” Ia memperjelas statusnya. Masih dengan rasa tidak percayanya, tapi Kania langsung naik ke motor Naren. Ia menutup bagian paha yang terekspose dengan tas yang diletakkan di depan. Sadar dengan kondisi Kania yang tidak nyaman, Naren akhirnya melepas jaketnya. “Kamu turun bentar.” “Lho, kenapa?” “Udah, turun aja dulu.” Kania akhirnya menurut. Ia turun dan berdiri di samping Naren. Detik berikutnya, jaket oversize milik lelaki tersebut ditalikan di pinggang Kania. Lelaki itu ternyata cukup peka dengan gelagat Kania. Perhatian kecil yang diberikan Naren cukup membuatnya tertegun sejenak. “Udah. Sekarang coba naik. Kayaknya, lebih aman daripada kamu nutupin pake tas.” “Tapi nanti jaket kamu kotor.” Kania merasa keberatan. Naren malah terseny

