Kania menatap kosong ke depan, lalu menutup wajahnya dengan satu tangan. “Maafin Kania, Bia. Kania cuma nggak mau bikin Bia lebih sakit,” bisiknya lirih, penuh sesal yang ia pendam sendirian. Belum pernah ia bertindak sejauh ini pada Yasmin. Sekasar dan sejahat apa pun Kania, belum pernah sampai sengaja menyakiti hati sang mama. Gadis tersebut memandangi bubur ayam yang ada di atas nakas. Ia mengambilnya, menghirup dalam-dalam aroma dari masakan Yasmin. Ia menyuapnya perlahan dan hati-hati karena masih panas. Masakan yang dibuat dengan penuh cinta selalu beda saat sampai di lidah Kania. Hanya dengan makan masakan Yasmin, Kania bisa merasa bahwa kasih sayang wanita itu tertuang di sana. Rasanya tidak ada yang pernah bisa menyamainya. “Maafin Kania, Bia….” Kania kembali menunduk, r

