Bab 46-3

884 Words

Tangannya meraih kuas, jemari memegangnya mantap, seolah hanya lukisan yang mampu menampung segala sesaknya. Rasanya sama seperti biasanya—jika hati sedang berat, lukisannya ikut kelam. Kali ini ia menggambar setangkai mawar putih, tapi kelopaknya ditetesi warna merah pekat, seperti bercak darah yang jatuh pelan. Latar belakangnya gelap: langit tanpa bintang, tanpa bulan, hanya hitam—abu—dan garis putih yang menyelinap tipis. Satu jam berlalu. Hasilnya, sebuah lukisan gelap namun indah, hanya indah bagi Kania—indah karena ia tahu rasa apa yang disembunyikan di balik setiap goresan. Deru mesin mobil terdengar dari bawah. Kania menoleh dari balkon. Hans baru turun dari mobil, langkah dan auranya sama dinginnya seperti malam itu. Mereka sempat bertemu pandang. Tatapan Hans menusuk, ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD