Nala tidak mudah ditipu. Ia melihat jelas betapa mencoloknya luka itu ketika terkena cahaya kelas. Meski tidak terlalu lebar, ketajaman warnanya membuatnya tampak jauh lebih menyakitkan dari yang Kania akui. “Bokap lo lagi, ya?” Pertanyaan itu menggantung di udara—berat, dingin, dan hampir seperti tuduhan yang sudah pasti benar. Namun Kania tetap diam. Mulutnya kelu, seolah ada tangan tak kasat mata yang menahannya dari dalam. Ia menundukkan wajah, membiarkan diam menjadi tameng satu-satunya. “Kania.” Nala memanggil lembut, suaranya nyaris berbisik. Ia menggenggam tangan sahabatnya, memberi tekanan hangat penuh dukungan. “Harus berapa kali gue bilang. Kalo ada apa-apa jangan dipendem sendiri. Ada gue, Naren juga.” Kania menarik tangannya dari genggaman Nala. Ia memilih untuk menyimpan

