“Sudah saya bilang! Saya nggak mau diganggu! Paham?!” Ia tidak bisa mengendalikan diri hingga berteriak keras sekali lagi. “Ma–Maaf, Tuan, tapi ... di luar ada Non Kania. Dia ... dia mau ketemu sama Tuan.” Mendengar nama gadis itu disebut, entah kenapa pikirannya seperti terbuka secara perlahan. Ada setitik cahaya yang masuk, membuat hatinya sedikit hangat. Biantara berdiri, berjalan menghampiri pintu. Ia menarik gagangnya hingga terbuka lebar. Di sana, pelayannya masih berdiri, menunduk takut. “Suruh dia ke sini.” Pelayan itu mengangguk. “Baik, Tuan.” Ia berjalan mundur. Sampai di ujung tangga, barulah badannya berbalik dan menuruni tangga cepat. Pria tersebut berdiri di sana. Tanpa menutup pintu. Tanpa bergerak. Ia seolah menunggu tidak sabar gadis yang disebut namanya oleh san

