“Berisik!” Teriakan Biantara kembali mengguntur seperti cambuk yang diayunkan tepat ke telinganya. Suara itu menghantam keras, membuat tubuh Kania tersentak. Namun kini, jeritan pria itu justru terdengar sumbang—seperti menahan sakit. Biantara memegangi kepalanya. Urat-urat di pelipisnya menegang. Tangis Kania membuat kepalanya berdenyut tak karuan; rasa tidak nyaman itu menjalar hingga ke belakang leher. Tubuhnya sendiri terasa salah, seperti ada yang memberontak dari dalam. Seluruh kondisinya jauh dari kata baik. Pandangannya mulai bergetar, berbayang. Dinding kamarnya seakan bergeser perlahan, bergelombang, dan warna-warnanya memudar. Ia berusaha berdiri, namun lututnya justru melemas. “Hhh—” Biantara hanya sempat menarik satu napas berat sebelum semuanya menggelap. Dalam hitungan

