Bab 49-3

708 Words

“Om … kenapa benci sama aku? Apa aku pernah buat kesalahan sebesar itu sampai Om nggak pernah mau lihat aku sebagai manusia?” Suara Kania pecah di antara isaknya. Tubuhnya yang masih gemetar perlahan merangkak mendekat. Di balik segala rasa takut dan luka, ada secuil keberanian yang muncul entah dari mana. Kania menatap Biantara lama—menatap wajah yang selalu memandangnya dengan dingin, tetapi justru terlihat begitu rapuh saat tak sadarkan diri. Untuk pertama kalinya, ia berani menyentuh wajah itu. Ujung jarinya menyapu garis rahang yang tegas, lekuk pipi pria yang selama ini hanya memberinya rasa sakit. Sentuhannya ringan, hampir seperti bisikan. Ada getar samar di dadanya—campuran antara takut, sedih, dan kenyataan pahit yang selama ini ia kubur dalam-dalam. “Andai Om tahu … kalau aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD