Pandangannya terfokus pada bingkai foto raksasa yang terpajang di tembok ruang tamu. Di sana keluarga Hans berada dalam satu frame, kecuali Kania. Di antara banyaknya foto yang terpajang di rumah ini, hanya ada satu foto yang ada dirinya. Dan itu pun letaknya berada di lantai tiga, samping kamar Hans dan Yasmin—yang jarang dilihat orang. “Jadi, menurut Miss Erika ... aku beda dari anak Papa yang lain?” Ia bertanya sambil mengarahkan kembali pandangannya pada Mrs. Erika. Ia berharap ada setitik jawaban yang bisa membuat pikirannya sedikit tenang. Mrs. Erika mengangguk. “Mungkin. Lebih kurangnya begitu, Kania.” Helaan napas lelah terdengar. Kania menunduk, menatap gelang pemberian Yasmin pada ulang tahunnya beberapa bulan lalu. “Tapi, aku salah apa, ya, Miss? Kenapa Papa benci dan

