Bab 60-2

714 Words

Drt-drt-drt! Ponsel itu bergetar. Ia mengangkatnya ponsel yang digenggam. Telepon dari Nala. Jarinya menggeser ringan, lalu menempelkannya di samping telinga kanan. “Halo, Nal.” “Gue udah di depan.” Sambungan telepon itu langsung Kania matikan. Ia buru-buru meninggalkan kamarnya dan keluar menuju mobil Nala yang sudah menunggu di sana. Gadis tersebut masuk dan duduk di samping kursi kemudi. Kania mengusap sisa air mata yang membuat pipinya masih terlihat basah. “Apa gue bilang,” ujar Nala, menoleh ke arah Kania, “lo pasti bakal nangis kayak gini liat Si Om nikah.” Kania berpaling. Ia merasa malu ketika mengingat betapa sok kuatnya ia beberapa hari lalu saat berada di rumah Nala. Nyatanya, memang ia kalah dan lemah. Gadis tersebut harus bisa menerima takdir jika Biantara sudah m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD