“Suruh dia keluar.” Instruksinya meluncur pelan tapi sarat tekanan. Nala menggeleng cepat, kedua tangannya refleks menggenggam pinggir pintu seolah itu satu-satunya tameng yang ia punya. “Tapi Kania beneran nggak di sini, Om.” Wajah polosnya berusaha tampak meyakinkan, namun suara yang bergetar membuat kebohongannya terbaca jelas. Biantara mendecak singkat, matanya menyipit menilai. “Bebal juga kamu.” Pada akhirnya pria tersebut menyingkirkan tubuh Nala dengan satu tangannya. Kakinya melangkah, melewati ambang pintu apartemen. Pada saat yang bersamaan, Kania baru keluar dari kamar. Gadis itu terkejut bukan main ketika melihat sosok pria yang sudah berdiri di depannya. Tubuhnya mundur beberapa langkah. Niat hati ingin masuk kembali ke kamar dan bersembunyi. Namun, tangannya sudah t

