Pria tersebut menggeram kecil. Gigitan di bahunya hanya menimbulkan nyeri yang tidak berarti apa-apa. Biantara tetap melanjutkan langkah lebarnya hingga masuk ke dalam lift. Di dalam kotak besi itu, tubuh Kania diturunkan sedikit kasar. Napas Kania naik turun tidak beraturan. Ia menatap kesal pada pamannya yang masih memaku tatapan terhadapnya. Wajah tampan itu terlihat garang. “Aku nggak suka cara Om yang maksa aku kayak gini!” Gigi Biantara bergemeletuk saat menahan rahangnya yang keras. Ia mencengkeram kerah baju Kania, lalu menyentak tubuh gadis itu ke dinding lift. “Saya tidak peduli.” Tiap katanya diberi penekanan saat mengucapkannya. Pria tersebut memajukan wajahnya ke wajah Kania. “Mau Om apa, sebenernya?! Kenapa buat Kania kayak gini?!” “Kamu yang buat saya seperti

