Dari mulai pergi tanpa pamit, pesan Biantara yang sering diabaikan, dan ... tubuh Kania drop secara tiba-tiba. Dua lengan kemejanya digulung sampai ke siku secara bergantian. Mau tak mau ia yang harus turun tangan untuk membuat gadis tersebut sadar. Biantara mengoleskan minyak angin di bawah hidung gadis tersebut. Lantas, ia mengambil handuk kecil dan air hangat guna mengompres tepat di dahinya. Hanya jeda beberapa detik setelah Biantara menangani, kepala Kania bergerak. Matanya masih memejam rapat. Ia menggigil. “Kamu ... pria brengsk!” Ucapan itu sontak membuat Biantara menoleh dan menaruh penuh atensinya pada Kania. Ia membuang napas kasar ketiak menyadari keponakannya mengigau. “Aku benci sama kamu! Kamu itu ....” “Saya apa? Hm?” Gilanya, Biantara justru menyahuti. Ia mengi

