Biantara memang memberi aturan tegas pada Kania, termasuk membatasi keponakannya dalam berinteraksi dengan orang luar. “Saya nggak akan macam-macam. Saya sebatas ingin ketemu karena lama nggak denger kabar dari dia.” Melati menarik napasnya dalam, lalu mengembuskan perlahan. “Baiklah. Tapi, sebentar saja, ya. Saya takut kalau Mas Bian tiba-tiba pulang.” Erika mengangguk. “Iya, Mba. Sebentar saja, kok.” Nyonya rumah itu akhirnya mengajak Erika naik ke lantai dua. Ia membuka pintu kamar Kania dengan perlahan, berusaha tidak mengganggu istirahat keponakannya. “Silakan, Bu.” Dengan pelan, Erika melangkah menghampiri tempat tidur Kania. Ia duduk di sisinya dan mengusap kepala gadis tersebut. Suhu tubuhnya benar-benar panas. Keringat tipis yang ada di dahi dan pelipisnya membuat tangan

